Wednesday, February 16, 2011

Jangan lupa, kita masih punya Pancasila, Rumah untuk kita semua

Selama beberapa hari, atau bahkan beberapa minggu ini, kita dibuat miris dengan terjadinya peristiwa kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok orang terhadap kelompok yang lain. Setelah sebelumnya kita dibuat kagum dengan berhasilnya rakyat Mesir menggulingkan presiden Hosni Mubarak dalam Revolusi Mesir.



Ketika sedang serius menyaksikan berita disalah satu televisi swasta mengenai detik-detik mundurnya Hosni mubarak, ternyata muncul breaking news yang mengabarkan tentang terjadinya tindakan anarkis yang dilakukan oleh ratusan masa terhadap pengikut Ahmadiyah di Cikeusik. Bahkan yang lebih membuat perasaan saya miris, dalam peristiwa tersebut jatuh tiga korban jiwa dari penganut Ahmadiyah. Dalam hati saya berkata, "Koq ada yang tega berbuat seperti ini??"

Belum reda pemberitaan mengenai tragedi Cikeusik, terjadi lagi aksi anarkis masa di Temanggung Jawa Tengah. Dengan alasan tidak menerima putusan pengadilan atas perkara yang katanya penistaan agama, ratusan masa merusak dan membakar beberapa bangunan, diantaranya rumah ibadah (Gereja), dan juga gedung sekolah. Setelah saya menyaksikan berita tersebut, kembali saya bertanya dalam hati, "Muke gile!! Baru kemarin terjadi di Cikeusik, sekarang di Temanggung terjadi aksi masa yang anarkis, yang lagi-lagi mengatasnamakan Agama. Apakah orang yang melakukan perbuatan anarkis seperti itu bisa dibilang sebagai orang yang beragama?? Karena saya percaya tidak ada satupun agama yang mengajarkan kekerasan, atau bahkan menghilangkan nyawa orang lain."

Tak berselang lama, tepatnya pada hari Selasa 15 Februari 2011, kembali terjadi aksi anarkis yang dilakukan oleh sekelompok masa yang mengenakan atribut berupa sarung, dimana mereka secara tiba-tiba menyerang Yayasan Pondok Pesantren Islam (Yapi) di Desa Kenep, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Akibat peristiwa ini beberapa santri terluka.

Melihat itu semua, saya sebagai warga negara Indonesia mencoba untuk berpikir secara jernih mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Kerusuhan atas nama SARA sangat berpeluang memecah persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Menurut saya, semua rentetan peristiwa tersebut bukanlah suatu hal yang kebetulan, karena ada beberapa indikasi yang mengarah kepada adanya perencanaan secara matang, dan juga dalam hal mobilisasi masa. Lalu pertanyaan nya, kemanakah aparat penegak hukum? Kenapa semua peristiwa ini harus terjadi? Hukum seakan lemah terhadap aksi anarkis masa yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu, apalagi jika mengatasnamakan agama. Sebagai contoh, polisi membebaskan beberapa orang yang diduga terlibat dalam kerusuhan Cikeusik hanya karena kantor polisinya didatangi ratusan masa.

Ketika pemerintah bereaksi, khususnya ketika Presiden SBY mengatakan bahwa jika ada ormas yang terbukti melakukan kekerasan atau tindakan anarkis maka akan dibubarkan. Hal ini justru menuai tanggapan yang menurut saya makin terlihat aneh, dimana ada salah satu ormas (FPI) yang mengancam akan menggulingkan presiden SBY. Secara nalar, jika kita tidak bersalah kenapa harus takut?? Bahkan tindakan yang jelas dengan mengancam melakukan makar, seharusnya pemerintah menanggapi ini dengan serius. Jangan sampai kelompok-kelompok seperti ini merasa bahwa mereka bisa melakukan apa saja tanpa ada yang bisa mencegahnya.

Saya sempat mengupdate status Facebook saya dengan kata-kata seperti ini " Orang yang mengandalkan kekerasan sebenarnya adalah orang yang merasa eksistensinya terancam".

Saya teringat dengan lagu Franky Sahilatua, Pancasila.

Seharusnya kita sebagai bangsa Indonesia kembali merenungi makna Pancasila dan semboyan Bhineka Tunggal Ika. Karena itulah dasar kita untuk hidup di bumi pertiwi kita ini. Jangan sampai ada niatan untuk menghancurkan itu semua, karena itu lebih berbahaya dari semua masalah yang pernah dihadapi bangsa ini.

Pancasila adalah rumah kita, rumah untuk kita semua...


Damai Untuk Indonesiaku

No comments: