Selamat sore para pembaca setia blog ini, sudah lama saya tidak menulis posting, kebetulan jadwal kuliah saya sangat padat ( banyak yang ngulang hehe..) sehingga belum sempat menulis posting lagi. Namun kali ini saya menyempatkan waktu untuk menulis posting ini, kebetulan lagi gak ada kerjaan, habis pulang kuliah.
Hari ini saya ada tiga mata kuliah, Hukum Pengangkutan Niaga, Hukum dan Kriminologi, dan yang terakhir Parpol dan Pemilu, yang merupakan mata kuliah wajib minat HTN. Cukup lelah, namun banyak sekali ilmu yang saya dapatkan pada hari ini, terutama ketika kuliah Parpol dan Pemilu, yang kebetulan dosennya adalah Armen Yasir, Pembantu Dekan I Fakultas Hukum Unila.
Langsung saya ke inti dari posting ini. Kuliah Parpol dan Pemilu diawali oleh pak Armen dengan memberikan beberapa dinamika yang terjadi dalam masyarakat, terutama yang berkaitan dengan materi kuliah. Sangat menarik beberapa pendapat yang disampaikan oleh pak Armen, sangat simpel, namun menimbulkan banyak pertanyaan di benak kami, terutama di benak saya pribadi. Kebetulan lagi, sebelum kuliah, saya sempat berdiskusi dengan kawan-kawan di depan sekretariat Mahusa FH Unila, saat itu ada kawan Reza Chyka Arisandi, Oki Dimas, Septian Hermawan, dan beberapa kawan lain yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu. Inti dari diskusi kami mengarah kepada konstelasi politik yang mungkin terjadi, dan juga kami membicarakan beberapa dinamika yang terjadi dalam masyarakat, yang tentu saja memiliki aspek hukum.
Jadi, ketika kuliah Parpol dan pemilu, saya coba bertanya tentang beberapa hal, kebetulan juga karena Pak Armen memang sengaja memancing dengan memberikan stimulus yang berkaitan dengan keberadaan dan fungsi partai politik dan pemilu di Indonesia. Satu yang menjadi pertanyaan mendasar saya adalah, masih perlukah ada partai politik? Karena jika melihat gerak parpol, dan juga kerja-kerja parpol selama ini, tidak jauh dari yang namanya uang. Partai politik yang seharusnya menjadi wadah untuk menampung aspirasi politik masyarakat, hanya menjadi kendaraan bagi para elite politik untuk 'bermain'. Mengapa saya sebut bermain, karena memang sudah bukan menjadi rahasia lagi, bahwa partai politik di indonesia sudah sangat melenceng dari hakekatnya, atau dalam bahasa lain, bahwa partai politik sudah melupakan fungsi dan tugasnya, yaitu sebagai penyambung aspirasi politik masyarakat pada umumnya, terutama konstituen mereka.
Permainan di tingkat partai politik, terutama di ttingkat pengurus pusat, sudah merupakan bentuk konspirasi antar para elite politik, dalam hal ini adalah para pemodal yang memberikan suntikan 'gizi' kepada parpol tersebut untuk dapat terus eksis dalam dunia perpolitikan. Terjadinya conflick of interest merupakan buah dari konspirasi yang terjadi di tingkat atas, yang intinya membuat rakyat semakin menderita.
Keadaan seperti ini terjadi dikarenakan hilangnya garis perjuangan pada internal partai politk di indonesia. Ideologi partai yang merupakan jati diri, dan juga sebagai pedoman perjuangan untuk menyalurkan aspirasi rakyat, diganti dengan apa yang disebut 'kepentingan'. Jika itu merupakan kepentingan bangsa dan negara, tentu akan menjadi catatan tersendiri bagi masyarakat, namun jika kepentingan itu menyangkut pribadi maupun kelompok tertentu, tentu saja akan menjadi noda besar yang tidak mungkin hilang begitu saja. Gerak yang terjadi selama ini, mengindikasikan bahwa, sistem yang ada di parpol mengarah kepada sistem Oligarki. Mengapa? Karena kepentingan partai lebih diutamakan dibanding kepentingan bangsa dan negara.
Memang banyak yang menyebabkan kondisi seperti ini, namun salah satu faktor yang paling menonjol adalah mengenai kaderisasi yang ada di masing-masing partai. Kaderisasi sebagai kunci utama dalam melahirkan politisi-politisi berkualitas yang memegang teguh garis perjuangan partai, seakan terlupakan. Partai lebih memilih untuk mengorbitkan orang-orang yang notabene bukan seorang kader, namun bersedia memberikan asupan 'gizi' kepada pengurus partai. Tentu saja hal seperti ini membuat hilangnya ideologi partai itu sendiri, mengapa? Karena orang yang bukan kader tidak mengetahui tujuan mulia dan luhur dari partai, mereka hanya memanfaatkan partai untuk mencapai tujuan mereka, kekuasaan.
Seperti inikah yang kita harapkan dari kehadiran partai politik di tengah-tengah masyarakat??
No comments:
Post a Comment